Sosok “Spiderman” yang Dijelaskan Dalam Al-Qur’an
6:26:00 PM
Hewan invertebrata berbuku-buku (arthropoda), kakinya berjumlah delapan dan memiliki kemampuan untuk membuat jaring. Ia termasuk hewan karnivora (pemakan daging), namun ia tidak dapat melompat maupun terbang. Sehingga ia harus memiliki kemampuan khusus untuk menangkap mangsanya. Hewan apakah itu?
Benar, laba-laba. Menyebut nama hewan yang satu ini membuat kita ingat ayat Al-Qur’an yang bunyinya seperti ini:
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahuinya.”
Ya, surat Al-‘Ankabut ayat 41. Al ‘ankabut itu bentuk mufrad dari ‘anakib yang artinya laba-laba.
Coba perhatikan rumah laba-laba, ia kalau panas, kepanasan. Kalau kena hujan jadi lebih “bocor-bocor”. Susunannya juga mudah rusak kalau disentuh sedikit. Makanya ada laba-laba yang parasit yang nebeng di rumah kita.
Filosofi hidupnya itu cenderung egois. Berbuat untuk kepentingan dan kesenangan dirinya sendiri. Ia membuat jaring untuk perdaya lawan, tak peduli nasib hewan lain. Oportunis, oleh sebab itu ia bernama laba-laba bukan rugi-rugi.
Ini khusus tentang ayat 41, jadi pembahasan tak melebar ke filosofi laba-laba lain.
Orang yang berkarakter seperti laba-laba ada banyak kita temui di sekitar. Yang mengaku Islam tapi menjatuhkan Islam. Yang mengaku Islam tapi ngeblock media Islam. Orang seperti ini orang yang “…mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah”
Mungkin ada yang menyebut “spiderman”, mungkin ada yang menyebut “ka al-ankabut” (bahasa arab yang artinya “seperti laba-laba”)
Ya, orang yang mencari pertahanan dan pelindung selain dari Allah itu orang yang ka al-ankabut, yang kini kita mengenalnya dengan bahasa sehari-hari “Kalang Kabut”.
Wallahua’lam.
Alam Bertasbih
6:11:00 PM
Semesta Alam bertasbih kepada Allah dengan cara taat pada hukum sunnatullah yang diperlakukan baginya dan tunduk pada kehendak Allah, ketaatan dan ketundukannya kepada kodrat (kekuasaan) dan kehendak Allah (Iradat) menjadikan alam itu selalu memiliki sifat positif. Manusia sebagi penghuni alam seharusnya juga menjaga kondisi agar selalu dalam posisi positif, dengan selalu taat dan patuh pada Allah dan RasulNya, sehingga tidak terjadi perbenturan yang mengakibatkan bencana.
Allah SWT berfirman dalam Q.S Al Hadid ayat 1, yang artinya:
"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"
Q.S Al Isra ayat 77, yang artinya:
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."
Alam semesta itu bertasbih kepada Allah SWT seluruhnya, seperti bumi, gunung, air, api, udara, halilintar, benda-benda langit dan semuanya. Tasbihnya alam itu sepanjang yang diketahui manusia mentaati hukum sunatullah dan tunduk pada Iradat (kehendak) Allah SWT. Bagaimana alam itu bertasbih dirahasiakan Allah SWT terhadap manusia, tetapi sedikit banyak dapat dipahami dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu Allah menyuruh agar manusia membaca alam yang tergelar.
Allah SWT memuji orang orang yang selalu ingat kepada Allah dan mau memikirkan alam semesta untuk meyakini ke-AgunganNya melalui ayat ayat kauniyyah (gejala alam), orang-orang inilah yang diberi gelar mulia sebagai Ulil Albab yaitu orang orang yang berakal. Firman Allah Surat Ali Imran ayat 191).
Alam semesta yang bertasbih itu bila diilustrasikan dengan suatu lambang memiliki lambang (+) atau positif. Karena alam itu tidak pernah bersalah ia selalu mengikuti dan mentaati hukum sunatullah yang ditetapkan Allah SWT. Jika alam bergejolak hingga berakibat terjadinya bencana buat manusia, jangan salahkan alam karena alam itu hanya tunduk kepada qudrat (hukum)dan iradat (kehendak} Allah SWT, alam adalah tentara Allah, tetapi lihatlah pada kesalahan manusia yang selalu mengingkari hukum-hukumNya.
Manusia sebagai bagian dari jagad raya ini semenjak lahirnya juga memiliki lambang positif (+) lambang ini terus akan dimiliki manusia selama ia beriman dan taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi ketika manusia itu mengikuti jalan syetan, atau tergoda oleh kehidupan dunia kemudian mulai berbuat dosa maka terjadilah proses perubahan dari nilai plus menjadi minus.
Manusia berdosa? itu wajar, tetapi bila tidak merasa berdosa, tidak mau bertaubat kepada Allah tidak mau memeluk agama yang diridaiNya, dan tidak mau bersujud kepadaNya maka hilanglah nilai positif dari dalam dirinya dan bergantilah dengan lambang negatif(–).
Fenomena Siang dan Malam Menurut Al-Qur'an
11:36:00 PM
Al-Qur’an
merupakan wahyu Allah SWT yang diberikan kepada Rasulullah SAW. Al-Qur’an merupakan
kitab yang menyempurnakan ajaran kitab-kitab terdahulu (taurat,zabur dan
injil). Al-Qur’an memiliki kebenaran yang mutlak, berlaku sepanjang masa dan
mengandung ajaran serta petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
Al-qur’an
sebagai pedoman serta petunjuk bagi manusia tidak hanya berisikan hal-hal yang
berdimensi spiritual, namun kandungannya juga mencakup dimensi intelektual
juga. Terbukti dengan banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang
hal-hal yang ilmiah atau dengan kata lain petunjuk tentang ilmu pengetahuan dan
sains, misalkan tentang penciptaan manusia, tentang asal usul alam semesta dan
salah satunya adalah fenomena siang dan malam. Dari beberapa hal tersebut sudah
sangat jelas bahwa kitab Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan dan sains.
Salah
satu fenomena yang dibahas dalam Al-Qur’an adalah fenomena siang dan malam.
Bagaimana fenomena siang dan malam menurut pandangan Al-Qur’an dan bagaimana
pandangan fenomena ini dari sudut pandang ilmu pengetahuan akan dibahas dalam
makalah ini.
Terdapat
banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang membahas mengenai siang dan malam, diantaranya
adalah QS. An Nuur ayat 44
“Allah mempergantikan malam dan siang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi
orang-orang yang mempunyai penglihatan.”
Dari
ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa malam dan siang itu datang secara
bergantian. Secara ilmiah, suatu belahan bumi terjadi fenomena siang ketika
belahan bumi tersebut sedang terkena sinar matahari, sedangkan bagian bumi yang
tidak terkena sinar matahari disebut malam, kemudian kejadian ini akan saling
bergantian karena bumi berputar pada porosnya.
Dalam
kehidupan sehari-hari yang kita lihat adalah matahari bergerak dari timur
kebarat, padahal yang sebernarnya terjadi adalah bumi berputar pada porosnya,
sedangan matahari tidak mengitari bumi (sebaliknya bumi yang beradar mengitari
matahari). Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT pada QS. Yaasiin ayat 38
“dan matahari berjalan ditempat
peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui”
Maksud
dari pada matahari berjalan ditempat peredarannya adalah matahari berputar
tetap pada tempatnya. Untuk mempermudah mempelajari konsep siang dan malam ini
dapat dilakukan percobaan berikut ini : Peganglah lampu listrik yang menyala
kemudian diputar-putar oleh tangan anda, di sisi lain, teman anda memegang bola
kurang lebih berjarak 1,4 m dari anda, dan bola tersebut dalam keadaan diam
(jangan diputar). Apa yang anda lihat terhadap bola itu? Tentu bagian bola yang
satu akan tetap terkena sinar lampu, dan bagian lain tetap gelap sekalipun
lampu tersebut diputar-putar tetapi pada tempat semula. Kemudian putar bola tersebut dan lihat apa
yang terjadi, bagian yang tadinya gelap akan mendapat sinar lampu dan
sebaliknya yang tadinya mendapat sinar lampu akan menjadi gelap. Percobaan
tersebut dapat membuktikan bahwa terjadinya siang dan malam secara bergantian
disebabkan karena bumi berputar ada porosnya yang sehari semalam memakan tempo
24 jam (Musthafa, 1979) .
Dari
penjelasan diatas kita dapat mengetahui bahwa bumi itu berputar pada porosnya
dan menyebabkan terjadinya siang dan malam, sedangkan apa yang kita lihat bahwa
matahari berpindah dari timur kebarat adalah wujud keterbatasan indra
penglihatan manusia dalam melihat alam semesta, namun pandangan ini tidak akan
dibatasi dengan ilmu pengetahuan.
Black Hole
8:53:00 PM
Salah satu
fenomena alam yang ditemukan pada abad ke-20 tentang peristiwa alam di ruang
angkasa adalah Black Hole (Lubang Hitam). Peristiwa ini terjadi ketika sebuah
bintang yang telah menghabiskan seluruh bahan bakarnya ambruk hancur ke dalam
dirinya sendiri, dan akhirnya berubah menjadi sebuah lubang hitam dengan kerapatan
tak terhingga dan volume nol serta medan magnet yang amar kuat. Kita tidak
mampu melihat lubang hitam dengan teropong terkuat sekalipun, sebab tarikan
gravitasi lubang hitam tersebut sedemikian kuatnya sehingga cahaya tidak mampu
melepaskan diri darinya. Akan tetapi, peristiwa bintang yang runtuh seperti itu
dapat diketahui dari dampak yang ditimbulkannya di wilayah sekelilingnya. Dalam
surat al-Waqi’ah, Allah mengarahkan perhatian kepada kita dengan bersumpah. Dan
sumpahnya itu berkaitan dengan letak bintang-bintang.
“maka Aku
bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah
sumpah yang besar kalau kamu mengetahui”. QS. Al-Waqi’ah: 75-76
Istilah “lubang
hitam” pertama kali dikemukanan oleh fisikawan Amerika, John Wheeler pada tahun
1969. Pada mulanya, kita beranggapan bahwa kita dapat melihat semua bintang.
Akan tetapi, belakangan diketahuin bahwa ada bintang-bintang di ruang angkasa
yang cahayanya tidak dapat kita lihat, sebab cahaya bintang-bintang yang runtuh
ini lenyap. Cahaya tidak dapat meloloskan diri dari sebuah lubang hitam
disebabkan lubang ini merupakan massa berkerapatan tinggi di dalam sebuah ruang
yang kecil. Gravitasi raksasanya bahkan mampu menangkap partikel-partikel
tercepat, seperti foton (partikel cahaya). Misalnya tahap akhir dari
sebuah bintang biasa yang berukuran tiga kali massa Matahari, berakhir setelah
nyala apinya padam dan mengalami keruntuhannya sebagai sebuah lubang hitam
bergaris tengah hanya 20 kilometer (12,5 mil), Lubang hitam berwarna “hitam”,
berarti tertutup dari pengamatan langsung. Itulah sebabnya keberadaan lubang
hitam ini diketahui secara tidak langsung, melihat daya hisap raksasa gaya
gravitasinya terhadap benda-benda langit lainnya. Selain gambaran tentang Hari
Perhitungan, ayat di bawah ini mungkin juga merujuk pada penemuan ilmiah
tentang lubang hitam ini:
“Maka apabila
bintang-bintang telah dihapuskan” (QS al-Mursalaat:8)
Selain itu,
bintang-bintang bermassa besar jga dapat ditemukan di ruang angkasa. Namun,
lubang hitam tidak hanya menimbulkan lekukan-lekukan di ruang angkasa tetapi
juga membuat lubang di dalamnya. Itulah mengapa bintang-bintang runtuj ini
dikenal sebagai lubang hitam. Kenyataan ini mungkin dipaparkan di dalam ayat
tentang bintang-bintang, dan ini adalah satu bahasan penting lain yang
menunjukan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah.
Sumber: Fisika & Al-Quran oleh Agus Mulyono & Ahmad Abtokhi